Postingan

Mengerang dalam doa...

Doa di saat kita dalam keadaan seperti sudah tidak bisa berdoa... Kadang-kadang ada waktu dimana kita sedang menghadapi masalah yang terlalu berat dan ketika kita mau berdoa kita malah merasa seperti sudah tidak bisa berdoa (seolah-olah kehilangan pengharapan). Dalam keadaan ini, kita harus tetap berdoa dan tidak boleh meninggalkan Tuhan. Keadaan seperti itu pernah dialami oleh bangsa Israel ketika mereka selama beratus-ratus tahun mengalami penderitaan dan perbudakan yang sangat berat di Mesir. Karena mereka sudah tidak tahan dalam penderitaan apa yg mereka lakukan? Keluaran 2:23:  “Lama sesudah itu matilah raja Mesir. Tetapi orang Israel masih mengeluh karena perbudakan dan mereka berseru-seru sehingga teriak mereka minta tolong karena perbudakan itu sampai kepada Allah.” Doa orang Israel dalam ayat di atas disebut dengan doa yang “mengerang”. “Mengerang” pada dasarnya bukan suatu doa yang sempurna. “Mengerang” timbul dari rasa lelah / sakit / mengeluh yang terlalu ber...

My only brother

Sebenarnya aku sedih ya Tuhan. Tanggal 12 Januari 2015 nanti adekku si Tian bakalan balik lagi ke Medan untuk penempatan kerjanya. Gak boleh sedih sepenuhnya juga sih, karena dia bakalan kembali sama-sama Mamak dan Bapak lagi di sana. Senang sebenarnya karena aku rasa itu memang yang terbaik untuk dia dan keluarga kami. Setelah apa yang telah kami rasakan dan alami bersama selama setahun ini di Ibu Kota, meski kebersamaan baru terasa beberapa bulan terakhir (setelah dia agak renggang dengan pacarnya, akulah yang menjadi pelariannya, heheheee). Cerita manis, cerita pahit, cerita galau, cerita seru, semua kau tumpahkan samaku tanpa ragu. Kau bilang samaku, “cuma sama kakaklah aku percaya dan ceritakan semua ini”. Terima kasih, dek. Kau tahu, itu penghargaan terbesar bagiku sebagai kakak. Dan itu membuat hidupku lebih berarti. Ya. Semoga kau merasakan hal yang sama dariku dan adik kita, si Indri. Bagiku, kau adalah adik sekaligus abang. Rasanya begitu cepat semua berlalu ya, dek… Tapi...

Gak ngerti..

Aku belum kenal dekat dengan ini orang. Juga gak banyak tahu tentang dia. Cuma, belakangan aku mulai ngerasa aneh. Gak ngerti. Makin lama makin kepikiran aja ini orang kenapa, ya? Mulai sesuatu kayaknya, wkwkwk. Beberapa cerita sengaja gak dishare di sini karena gak ingat dan males nulis (privasi juga, hehehe). Seingatku kami ketemu pertama kali di warteg langganan dekat kostan. Kenalan biasa aja. Nama, asal, almamater, dan keinginannya gabung di naposo. Kebetulan gak sih? Banyak orang yang kenalan di warteg, ngobrol, tapi gak ada yang sampe segininya juga. Gak ngerti. Sejak bulan berapa yang lalu itu (aku gak ingat) kami sering kali ketemu. Entah itu di warteg atau di gereja. Gak banyak topik yang dibicarakan sebenarnya. Palingan tentang pelayanan gereja. Seringnya sih lelucon gak penting. Tiap pulang ibadah minggu kami ketemu di pintu gereja. Dia selalu sendiri. Kasian juga ini orang gak ada temannya, pikirku. Makanya kalau aku lihat dia masih berdiri sendiri di luar gereja (mungkin...

Kangen.

Hari ini. Entah karena apa. Mendadak isi hati dan isi pikiran rasanya seperti mainan anak yang berserakan. Aku sedang patah hati? Bukan.  Aku sedang jatuh cinta? Gak juga.  Lalu?  Sometimes, ada masa di mana kita merasa enggak jelas. Gak bersemangat. Gak antusias.  Galau? Nggak lah. Ini bukan galau. Apa yang mesti digalaukan?  Mungkinkah ini hanya fase mengalir? Membawaku bersama keinginan dan harapan. Tiba-tiba aku merasa mungkinkah karena aku sedang rindu rumah?  Rindu mamak. Rindu bapak. Rindu makan bersama.  Rindu nonton OVJ bareng. Rindu ngobrol-ngobrol sampai larut malam.  Rindu ngusuk kaki dan tangan mamak. Rindu bikin teh untuk bapak.  Rindu dicerewetin. Rindu disuruh-suruh. Rindu melawan. Rindu dicayang-cayang pas lagi bobo.  Rindu diajak mamak ke pajak, belanja sampai keliling demi beda 5ribu perak atau karena nyari model lain, tapi ujung-ujungnya sama aja, balik juga ke tempat se...

Di doa ibuku namaku disebut...

Rabu malam kemarin ada kegiatan naposo (pemuda) doa bersama di gereja. Temanya tentang mengasihi dan membahagiakan orang tua. Aku sempat sharing singkat di situ tentang perjalananku dulu mendapatkan pekerjaan setelah lebih dari 6 bulan menganggur. Dulu aku sempat berpikir bahwa gak punya kerjaan berarti gagal bikin orang tua bahagia. Oke mungkin itu ada benarnya. Tapi apakah hanya itu yang disebut membahagiakan dan mengasihi orang tua? Intinya poin yang kubagikan tadi adalah kita memang gak bisa selalu membahagiakan orang tua kita, tapi Tuhan selalu bilang hormatilah orang tuamu supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan Allah kepadamu (Hukum Taurat ke-5). Ada hal yang pengen aku share tapi belum kesampaian. Makanya aku tuliskan di sini aja yaa.. Jadi begini, tiap orang pasti pengen bikin orang tuanya senang dan bahagia kan ya? Masa sih ada anak yang senang liat orang tuanya nangis? Yang jadi soal adalah apa sih parameternya supaya bisa disebut mengasihi dan membahagiakan ...

Masa-masa ini

God, aku udah gak bisa mikir. Gak tau mau gimana lagi. Sepertinya harapan udah abis lenyap. Aku ingin pergi, tapi gak tau ke mana. Aku ingin berubah, tapi gak tau harus seperti apa. Seringkali aku merasa kok aku gak mampu ya? Kok aku gak sabaran ya? Kok aku gak bisa menikmati yang aku punya ya? Keinginan daging kayaknya lebih besar dari penantianku kepada kehendak-Mu. Aku merasa lemah. Aku takut lengah, Tuhan... Sungguh… Aku merasa udah gak yakin lagi dengan diriku sendiri. Sekakan semua ini hanya pemborosan tenaga. Aku berteriak dalam hati, “Aaaaa…. Tuhan!!! Tolong aku!!!” Tolong aku untuk menyukai apa yang Tuhan beri padaku. Tolong aku untuk bersyukur di dalam kelemahanku. Tolong aku untuk memuliakan-Mu di dalam kekuranganku. Tolong aku untuk terus mengarahkan pandanganku kepada Terang-Mu yang ajaib, ya Tuhan... Aku pikir hanya itulah satu-satunya yang sanggup membuatku bertahan di masa-masa seperti ini...

Mereka...

Tak seorang pun dapat mengatur pertemuan ini selain Dia, Sang Pemilik Kehidupan. Tak pernah ku sangka akan bertemu dengan orang-orang seperti mereka. Mulai dari bulan Mei 2013 hampir seluruh hari aku jalani bersama-sama mereka. Bersama mereka aku kenal ragam kisah kehidupan dan segala sesuatunya. Bersama mereka aku tahu apa itu rasanya gak enak dan baik-baik saja. Bersama mereka duniaku semakin luas. Bersama mereka aku bertumbuh. Bersama mereka aku berubah. Ya, berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya. Mengharapkan kebersamaan tanpa konflik atau perselisihan ibarat menghitung butiran pasir di pantai Kuta. Tidak akan mungkin. Marah, kesal, diam-diaman, ngotot-ngototan, semua itu pernah ada di antara kita. Konyol, iseng, bocor halus, alay, lebay, malu-maluin, semua rasa pernah aku alami bersama mereka. Kasih Tuhan, itulah yang membuat kita tetap utuh. Kebersamaan yang membuahkan persahabatan. Bahkan seperti keluarga. Seperti kakak dan adik. Seperti adik dan abang. Mungkin juga se...