Postingan

Di Rumah Lebih Baik

Udah sebulan ini aku di rumah aja karena work from home sejak diberlakukannya PPKM darurat. Sebetulnya ada rasa lega dengan adanya peraturan ini. Alarmku nggak perlu bunyi jam 4.30 pagi seperti saat  work from office . Belum lagi pulangnya harus naik angkot, bertemu dengan masyarakat campuran (berkesadaran dan tidak berkesadaran) terkait hal basic kayak pakai masker dan jaga jarak. Pelik!  Ini ceritaku saat wfo. Jam 5.30 bus kantor cusss berangkat. Otomatis semua dikerjakan seringkas mungkin. Belum lagi kalo ada insiden telat bangun, wuuussshhh... Mandi, berpakaian, menyiapkan sarapan untuk dibawa ke kantor, dll. Lupakan berlama-lama di depan lemari dan berpikir-pikir, "hari ini aku mau pakai baju apa ya?" atau berdiri di tengah dapur dan bertanya-tanya, "pagi ini aku mau siapin sarapan apa ya?" Boro-boro... Pokoknya, apa yang pertama kali dilihat, SHE CUT !! *baca SIKAT!!. Dan jujur, bukan naturalku untuk bangun dan keluar rumah sepagi itu. Dengan separuh kesadar...

Kadang

Kadang, segala sesuatu yang terjadi pada waktu tertentu tidak harus bisa dimengerti pada saat itu juga. Mungkin kita bertanya-tanya, bahkan menjadi bingung, sebelum akhirnya dapat memahaminya satu per satu pada suatu hari. Kadang, kumparan kebingungan itu menimbulkan segala rupa pikiran dan perasaan yang tidak karuan. Entah dia bernama keresahan, kecemasan, kekuatiran, ketakutan, penderitaan, serta apapun itu yang tidak menyenangkan dan menenangkan bagi kita. Kadang, maksud dan tujuan di balik semua kenyataan yang telah terjadi baru bisa disadari dan diterima setelah kita melewati berbagai macam perjalanan, perhentian, ujian, cobaan, drama, bahkan tragedi yang bisa jadi tidak diinginkan. Kadang, kita ingin cepat-cepat menyelamatkan diri ketika persoalan demi persoalan menghimpit hingga bernafas pun rasanya sulit. Kadang, kita ingin segera berhasil ketika mengurai kerumitan demi kerumitan yang terasa seperti benang kusut.  Kadang, kita menjadi tidak sabar. Kadang, kita menjadi tidak...

Penonton

Ketika penonton lebih heboh dari pemain itu sendiri, komentarnya sering muncul tanpa diminta. Seolah mereka paling paham dan merasa lebih layak jadi pemain, sementara mereka sedang berada di luar lapangan. Mohon maaf, anda tahu posisi anda di mana?  Ya begitulah para penonton! Bisanya cuma cuap-cuap atau ngedumel di depan layar, atau minimal di dalam hati. Padahal... mereka nggak tau pasti gimana rasanya jadi pemain yang lari-larian di lapangan, mengerahkan segalanya untuk bisa mengalahkan diri sendiri dan lawan mainnya. "Yaa, harusnya kek gini, bukan kek gitu! Aturannya ini dong, bukan itu! Kalau lakukan ini, nanti gini gini gini. Kalau pilih itu, nanti gitu gitu gitu."  Hey... Anda siapa?! Kalau hidupku berbeda denganmu, apanya yang salah? Apa aku harus menjadi pengikutmu untuk memvalidasi hidupku sendiri? Please... Jalan hidup orang itu beda-beda, lho! Kau jalani hidupmu. Kujalani hidupku. Karena hidupmu adalah your life dan hidupku adalah my life .  Kalau it works d...

Dsb. Dst.

"Udahlah... Buat apa jadi cewe mandiri, nanti cowo takut mendekat lho. Buat apa sekolah tinggi-tinggi, ujung-ujungnya ngurus dapur dan kasur juga. Buat apa berkarir, kan ada pasangan yang menafkahi. Udahlah... Nggak usah milih-milih, ingat umur, nggak ada yang sempurna. Dsb. Dst."  Mungkin mereka ada benarnya, tapi nggak perlu diikuti semua juga kan. Mereka bukan pengemudi hidup kita. So, go ahead!  Kerjakan dalam diam apa yang menurutmu perlu dikerjakan. Karena waktu nggak tau caranya menunggu. Bila memang untukmu, pasti akan datang. Percaya! Membenahi diri, mempersiapkan diri, dan segala hal yang membahagiakan diri sendiri adalah prioritas. Pengalaman adalah guru. Kita bisa berencana dan berekspektasi tentang segudang hal, tetapi pada akhirnya semesta mengajarkan kita bagaimana dihancurkan untuk dibentuk, mengalah untuk menang, mencari untuk menemukan, merasakan untuk memberi rasa, menanti untuk berjumpa. Dsb. Dst. Kehidupan adalah sekolah. Kesulitan yang mengajarkan ke...

33

Puji Tuhan! Ternyata Tuhan memberiku kesempatan untuk menginjakkan kaki di usia 33 tahun ini. Sebuah anugerah yang 'mungkin' tidak semua orang dapatkan. Mengingat ada sahabat dan kerabat, yang seumuran bahkan lebih muda, harus berpulang dan meninggalkan kami dengan duka.  Bila merenungkan kembali ke belakang. Indah tak selalu ada. Baik dan buruk harus dilalui sebagai jalan pendewasaan diri. Semua orang pernah gagal dan berhasil, naik dan turun, mudah dan sulit. Segala rasa dan kondisi kiranya menguatkan dan mengingatkan hakikat manusia dalam kesementaraan hidup. 'Menjadi manusia' bukanlah hal yang bisa didapatkan dalam sekejap. Butuh waktu. Butuh usaha. Ada marah, luka, penolakan, hingga penerimaan dan damai sejahtera. Dan semoga setiap proses tidak mengkhianati hasil. You deserve. It's woth it.  Dan semua yang diusahakan itu pun akan menemui garis akhir. Terasa naif? Haha.. Tapi bukankah semua akan 'berpulang' pada waktunya? Adakah orang yang dapat hidup ke...

Let It Go!

Ketika hidup nggak sesuai rencana atau harapan, let it go, let it go ....  Tentu, kita nggak bisa menebak masa depan. Apakah semua terkendali? Gimana dengan yang nggak?  The black swan . K adang ada hal-hal di luar kebiasaan dan perkiraan kita.  Apa semesta nggak berpihak? Mungkin rasanya  ingin berontak keluar dari kotak bernama ekspektasi. Tapi, bisa apa, maunya begini, realitanya kok begitu. Sadari, tidak ada yang abadi. Semua bisa berubah. Apa di bumi ini ada kesusahan yang selamanya, pun kebahagiaan yang kekal?  Apa ada orang yang selalu baik, pun orang yang buruk terus-menerus? Perubahan akan selalu ada, bukan? Bila rasanya hidup belum berubah, mungkin kitalah yang harus berubah lebih dulu. Hidup ini dinamis. Duka akan berganti dengan suka, rugi berganti dengan untung, pahit berganti dengan manis, pun sebaliknya. Manusia perlu semua rasa dan pengalaman itu untuk membuatnya menjadi manusia seutuhnya, bukan semaunya. Pengen gampangnya aja, yang susah, jauh-j...

How Far I'll Go?

And no one knows, how far it goes... One day I'll know, if I go there's just no telling how far I'll go... Puji Tuhan, di Desember 2020 kemarin  akhirnya   aku lulus juga. Pada SIMAK UI yang ketiga kalinya (di prodi yang beda-beda). Ilmu Komunikasi, Administrasi Negara, dan ujungnya malah lulus di Akuntansi, sama kayak S1. Ya, gitulah kadang-kadang, yang dihindari malah kejadian, hahaha... Setelah lama merenung di dalam gua, aku nggak ketemu Si Buta dari Gua Hantu. Apaan sih, hahaha... Nggak. Tadinya aku mikir "kenapa lulusnya baru sekarang, Tuhan, di akuntansi pula?" Terus mikir lagi "Gimana aku melalui semua ini,  Tuhan, heleeeppp..."  Jawaban pertanyaan pertama, bisa jadi, memang inilah waktumu dan tempatmu.  Yasudah. Terima. Bersyukur. Jawaban pertanyaan kedua,  nobody said it was easy.  Lanjutkan. Hmm, b aru memikirkan aja aku udah  complicated , apalagi menjalani, wkwkwk... Ya, memang nggak semulus jalan tol sih, hehehe... But, it's ok. ...