Postingan

Jawaban Doa (2)

Saat kau sudah berdoa sungguh-sungguh, masakan Tuhan tidak menjawab doamu? Saat Tuhan telah menjawab doamu, masakan kau akan kecewa dengan itu? Semua doa akan menemukan jawabannya sendiri, sesuai rencana-Nya.. Jangan pernah kecewa dengan jawaban doamu, sekalipun tak seperti harapmu. Jika kau mau sedikit lebih percaya lagi, kau akan melihat lebih banyak lagi. Segala yang tak kau pahami saat ini, akan kau mengerti kelak. Segala yang kau terima saat ini, akan kau banggakan nanti.. Percayalah.. Percayalah kepada-Nya dengan segenap hati..

Sebatang Kara

Telah selama inilah aku... Sebatang kara mengarungi ibukota Kadang tenang, kadang goncang Sebatang kara menapaki kehidupan Kadang terang, kadang gelap Sebatang kara tanpa kawan Kadang tegar, kadang tepar Sebatang kara di setiap masa Sebatang kara menelan rasa Sebatang kara memendam segala Sebatang kara dengan air mata Sebatang kara untuk berani Sebatang kara untuk kuat Mustahil tanpa keluh kecewa Ragu melanda Kalut bergelut Sebatang kara aku jalani Kucoba terus ingatkan diri Ada sendiri yang tak benar-benar sendiri Ada sendiri yang tak selalu sepi Sebatang kara di genggaman-Nya Sebatang kara dengan hati-Nya Sebatang kara dalam peluk-Nya Kutenang s'bab Kau Bapaku...

Si Pemikir

Si pemikir yang hidup dalam pikirannya Pikirannya adalah dunianya Semakin dia berpikir semakin dia kelelahan Semakin dia berlari-lari dalam dunianya Semakin dia berpikir, semakin jauh dia berlari Si pemikir yang tiada ujungnya Si pemikir yang tiada berakhir Si pemikir yang selalu saja berpikir Si pemikir yang memikirkan apa saja Si pemikir yang tak pernah berhenti berpikir (gms_071117)

Ban Bebek Kuning

Ketika aku menuliskan hal ini, aku dalam keadaan sangat bingung. Aku nggak paham. Manakah yang harus kupilih? Manakah yang sebenarnya kehendakku yang semestinya harus kusesuaikan dengan kehendak-Nya? Aku seperti orang yang terapung-apung bersama ban bebek kuning di tengah kolam renang atau jangan-jangan di tengah samudera. Aku ingin menuju tepian. Tapi apa daya? Aku nggak bisa berenang. Hanya bisa berharap kedatangan tim penyelamat segera menghampiriku. Aku lelah. Aku lelah berusaha bergerak menepi. Aku lelah mengepak-ngepakkan tangan seolah aku bisa berenang. Aku. Dan diriku yang tak bisa apa-apa.

Jangan

Jangan datang kalau masih ragu Jangan kembali kalau cuma bergurau Jangan muncul kalau tidak benar-benar mau Tolong, jangan berikan ku harapan semu.. Apa maksudmu datang dan pergi? Apa maumu kembali sesuka hati? Muncul sesaat lalu hilang berhari-hari Menampakkan diri lalu cabut tanpa permisi Kau tau, lebih baik kau tak pernah kembali Atau kau mau, lebih baik aku yang pergi? (gms_110917)

Diam

Kadang2 semua itu hanya ada di dalam kepala kita. Bukan sesuatu yang benar2 riil. Ketika semua berputar-putar dan memenuhi. Begitu menyiksa. Seolah tak ada jalan keluar. Semua mentok dan tak tahu harus ke mana. Saat itulah kita memilih untuk diam... (Suatu hari di bulan September)

Kedai Kopi

Aku memperhatikan dia karena suaranya yang besar dan banyak tanya. Seorang bapak tua sedang berbelanja menggunakan t-cash. Momen langka bagiku. Di zaman serba digital, dengan segala keterbatasannya, bapak tua itu membeli berbagai makanan dan minuman. Dia memesan semuanya sendiri. Baik untuk dirinya, maupun untuk dibawa pulang. Mandiri. Salut. Sekaligus haru. Jadi teringat orang tua sendiri. Aku rindu. Di usia mereka yang hampir menginjak kepala 6. Di saat itu aku malah hidup berjauhan dengan mereka. Tanpa sadar mataku berkaca-kaca. Mungkin aku terlalu sensitif. Dengan hanya melihat pemandangan seperti inipun aku bisa tersentuh. Ah.. Aku terenyuh melihat wajah bapak tua yang duduk persis di depanku. Menikmati kesendiriannya. Sama seperti aku. Menyeruput segelas minuman yg kami pesan. Di meja kami masing-masing. Ah.. Momen ini sukses membuatku merasakan sesuatu yang tidak kutau apa namanya. Mmm...