Postingan

Ban Bebek Kuning

Ketika aku menuliskan hal ini, aku dalam keadaan sangat bingung. Aku nggak paham. Manakah yang harus kupilih? Manakah yang sebenarnya kehendakku yang semestinya harus kusesuaikan dengan kehendak-Nya? Aku seperti orang yang terapung-apung bersama ban bebek kuning di tengah kolam renang atau jangan-jangan di tengah samudera. Aku ingin menuju tepian. Tapi apa daya? Aku nggak bisa berenang. Hanya bisa berharap kedatangan tim penyelamat segera menghampiriku. Aku lelah. Aku lelah berusaha bergerak menepi. Aku lelah mengepak-ngepakkan tangan seolah aku bisa berenang. Aku. Dan diriku yang tak bisa apa-apa.

Jangan

Jangan datang kalau masih ragu Jangan kembali kalau cuma bergurau Jangan muncul kalau tidak benar-benar mau Tolong, jangan berikan ku harapan semu.. Apa maksudmu datang dan pergi? Apa maumu kembali sesuka hati? Muncul sesaat lalu hilang berhari-hari Menampakkan diri lalu cabut tanpa permisi Kau tau, lebih baik kau tak pernah kembali Atau kau mau, lebih baik aku yang pergi? (gms_110917)

Diam

Kadang2 semua itu hanya ada di dalam kepala kita. Bukan sesuatu yang benar2 riil. Ketika semua berputar-putar dan memenuhi. Begitu menyiksa. Seolah tak ada jalan keluar. Semua mentok dan tak tahu harus ke mana. Saat itulah kita memilih untuk diam... (Suatu hari di bulan September)

Kedai Kopi

Aku memperhatikan dia karena suaranya yang besar dan banyak tanya. Seorang bapak tua sedang berbelanja menggunakan t-cash. Momen langka bagiku. Di zaman serba digital, dengan segala keterbatasannya, bapak tua itu membeli berbagai makanan dan minuman. Dia memesan semuanya sendiri. Baik untuk dirinya, maupun untuk dibawa pulang. Mandiri. Salut. Sekaligus haru. Jadi teringat orang tua sendiri. Aku rindu. Di usia mereka yang hampir menginjak kepala 6. Di saat itu aku malah hidup berjauhan dengan mereka. Tanpa sadar mataku berkaca-kaca. Mungkin aku terlalu sensitif. Dengan hanya melihat pemandangan seperti inipun aku bisa tersentuh. Ah.. Aku terenyuh melihat wajah bapak tua yang duduk persis di depanku. Menikmati kesendiriannya. Sama seperti aku. Menyeruput segelas minuman yg kami pesan. Di meja kami masing-masing. Ah.. Momen ini sukses membuatku merasakan sesuatu yang tidak kutau apa namanya. Mmm...

Jawaban Doa

Aku hampir selalu percaya bahwa setiap doa pasti akan Tuhan jawab. Sekecil atau sebesar apapun permintaan kita. Ada yang sekejap dijawab. Tapi ada juga yang setelah lamaaa baru dijawab. Tuhan peduli sama kita. Meskipun nggak keliatan, tapi Dia selalu ada dan memperhatikan. Jadi nggak perlu kuatir sekiranya jawaban doamu nggak selalu sama dengan yang kamu mau. Sedih boleh, tapi ingat untuk sukacita lagi.. Percaya deh, Tuhan selalu punya kejutan buatmu. Jadi, siap-siap aja.. hehehe ^^

Nasi Jadi Bubur

Ada banyak kesalahan yang kulakukan dalam hidup. Salah memilih atau salah memutuskan sesuatu. Bukan hal yang mudah untuk melakukan yang benar. Setiap kesalahan pasti punya akibat yang mengikutinya. Setiap kali aku salah, aku pasti langsung menyesal. Tapi apa gunanya? Tidak mengubah keadaan. Karena seringkali nasi sudah menjadi bubur.

Rokok

Aku suka ngeliat orang-orang yang nggak merokok. Senang aja, karena mereka mengasihi diri mereka sendiri dengan cara menjaga paru-parunya. Terlepas dari mereka belum pernah mencicipi rokok sama sekali atau mantan pecandu. Aku salut dengan populasi langka ini, yang nggak ikut memperluas ranah polusi di bumi pertiwi. Aku acungin jempol sama mereka, karena perbuatan mereka ikut menyelamatkan kelangsungan hidup paru-paru orang di sekelilingnya. God bless them.. Dan buat orang-orang yang belum lepas dari jerat "si rokok" aku doakan semoga segera diberi pencerahan atau keajaiban yang sanggup mengubah kebiasaan merokok mereka. May God strengthen them all.. Aku yakin kebiasaan yang lebih baik pasti akan berkontribusi pada kehidupan yang lebih baik juga. Minimal untuk dirinya sendiri.